Skip to main content

Journeys of Joys

Di Jogja sedang heboh kasus penganiayaan anak di sebuah daycare. Orang-orang ramai membagikan foto dan video yang beredar. Kondisi anak-anaknya benar-benar memprihatinkan — kaki dan tangan mereka diikat, bahkan ada yang seluruh tubuhnya dibedong.

Semoga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, dan anak-anak tersebut beserta keluarganya bisa pulih dari trauma yang mereka alami.

Tapi di sini saya ingin membahas hal lain: menyebarnya foto dan video para korban tanpa blur wajah.

Reaksi pertama saya waktu melihat videonya lewat di timeline adalah langsung menutupnya. Setelah membaca deskripsinya, saya benar-benar merasa sedih dan tidak tega. Apalagi sempat melihat ekspresi wajah anak-anak itu yang terlihat begitu ketakutan dan memelas.

Karena itu saya heran, kok bisa orang-orang tega menyebarkan video-video tersebut begitu saja? Saya paham tujuannya mungkin ingin menunjukkan betapa kejamnya daycare tersebut, tapi bukankah wajah anak-anak itu masih bisa diblur atau setidaknya ditutupi?

Di mana empatinya? Tidak kasihan dengan keluarganya? Tidak kepikiran bahwa suatu hari nanti anak-anak itu mungkin akan melihat kembali foto dan video mereka tersebar di internet? Kita semua tahu: what’s on the internet stays forever.

Padahal saya juga melihat sudah ada permintaan dari salah satu orang tua korban agar foto-foto tersebut tidak disebarluaskan.

Screenshot permintaan orang tua korban daycare

Saat kasus ini sedang ramai dibicarakan, di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti ada seseorang yang membagikan banyak sekali foto dan video korban. Saya lalu mengingatkan baik-baik dan meminta izin untuk menghapus foto-fotonya.

Saya hanya menghapus fotonya, bukan beritanya. Bahkan saya juga menulis, “Silakan viralkan pelakunya saja.” Saya juga membagikan screenshot permintaan dari orang tua murid daycare tersebut agar foto anak-anak mereka tidak disebarkan.

Beberapa teman kemudian menghubungi saya secara pribadi, dan ternyata mereka sepemikiran.

Namun orang yang membagikan foto tadi ternyata tidak terima. Menurutnya, di media sosial sudah jauh lebih banyak foto yang tersebar dan bahkan lebih vulgar.

Katanya saya lebay. Bahkan dia mengungkit kejadian lain, ketika ada teman yang sakit parah dan dia meminta foto kondisinya saat dibesuk. Waktu itu orang yang membesuk menolak karena merasa tidak tega, dan saya juga berkomentar bahwa memang sebaiknya tidak usah disebarkan.

Saya benar-benar heran. Di mana empati kita?

Untuk apa ingin melihat foto teman kita yang sedang sakit parah, kondisi fisiknya sudah menurun, lalu fotonya disebarkan ke mana-mana? Kalau kita berada di posisi dia, apakah kita mau diperlakukan seperti itu?

Begitu juga kalau itu anak kita yang menjadi korban daycare. Apakah kita rela foto dan videonya tersebar di mana-mana tanpa kontrol?

Kadang saya merasa sedih melihat bagaimana empati perlahan hilang di era media sosial ini. Yang ada justru FOMO — takut ketinggalan ikut membagikan berita, apalagi yang penuh sensasi.

Kadang saya merasa media sosial membuat kita lupa bahwa yang viral itu manusia.

This is just sad.

————————

Penjelasan dari Pandangan Jogja tentang pentingnya menjaga privasi anak-anak korban:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.